6 Kerangka Manajemen Risiko, Jangan Abaikan Hal Ini

Dalam standar ISO 31000:2018, kerangka manajemen risiko menjadi panduan utama untuk membantu perusahaan mengelola ketidakpastian.

Struktur ini bertujuan untuk memastikan bahwa pengelolaan risiko benar-benar menyatu dengan setiap aktivitas dan pengambilan keputusan di kantor.

Apakah tim di tempat kerja sudah memiliki alur yang jelas untuk menghadapi tantangan bisnis?

6 Kerangka Manajemen Risiko yang Wajib Dipahami

Struktur ini bekerja seperti siklus yang berulang dan terus berputar. Tujuannya adalah untuk menciptakan perbaikan yang berkelanjutan di dalam organisasi. Berikut adalah enam komponen utama yang perlu dipahami agar pengelolaan risiko di perusahaan berjalan efektif:

1. Kepemimpinan dan Komitmen (Klausul 5.2)

Pimpinan tertinggi harus menunjukkan dukungan yang kuat dan berkelanjutan terhadap pengelolaan risiko. Tanpa adanya restu dari pimpinan, aturan ini hanya akan menjadi tumpukan dokumen tanpa aksi nyata. Penerapan yang profesional biasanya meliputi beberapa poin penting:

  • Menyelaraskan pengelolaan risiko dengan tujuan dan budaya kerja organisasi.
  • Menerbitkan kebijakan pengelolaan risiko yang jelas bagi seluruh karyawan.
  • Menyediakan sumber daya yang cukup, mulai dari personel hingga alat pendukung.
  • Menetapkan peran, wewenang, dan tanggung jawab yang tegas bagi setiap orang.

2. Integrasi (Klausul 5.3)

Pengelolaan risiko bukanlah sebuah bagian yang berdiri sendiri atau terpisah. Aturan ini harus menjadi bagian yang menyatu dalam semua proses organisasi. Tim perlu memahami struktur serta lingkungan internal dan eksternal perusahaan dengan baik. Langkah ini memastikan bahwa setiap pertimbangan risiko selalu ada dalam setiap pengambilan keputusan di berbagai level.

3. Desain (Klausul 5.4)

Tahap ini berfokus pada perencanaan struktur yang akan digunakan. Perusahaan perlu memetakan lingkungan kerja dengan teliti sebelum mulai bertindak. Langkah-langkah dalam tahap desain meliputi:

  • Memahami Konteks: Menganalisis aturan hukum, kondisi pasar, hingga budaya kerja internal.
  • Membangun Komunikasi: Menyiapkan sarana konsultasi dengan pihak internal maupun eksternal.
  • Menetapkan Kriteria Risiko: Menentukan standar yang digunakan untuk menilai seberapa besar dampak suatu risiko bagi bisnis.

4. Implementasi (Klausul 5.5)

Penerapan yang efektif membutuhkan rencana kerja yang teratur dan jelas. Apakah semua orang sudah tahu kapan sebuah tindakan harus selesai dilakukan? Implementasi yang baik melibatkan penentuan jadwal eksekusi dengan batas waktu yang pasti.

Selain itu, perlu dipastikan bahwa setiap keputusan penting dibuat oleh orang yang tepat dan berwenang. Kami menyarankan agar kerangka ini selalu disesuaikan dengan kebutuhan unik dari industri yang Anda jalani.

5. Evaluasi (Klausul 5.6)

Organisasi wajib mengukur kinerja pengelolaan risiko secara berkala untuk melihat apakah tujuannya sudah tercapai. Hal ini dilakukan agar kita tahu bagian mana yang masih perlu diperbaiki. Beberapa hal yang dilakukan dalam tahap evaluasi adalah:

  • Menetapkan Indikator Risiko Utama untuk memantau profil risiko perusahaan secara tepat.
  • Meninjau kembali apakah rencana penanganan risiko yang ada saat ini masih efektif atau tidak.

6. Perbaikan (Klausul 5.7)

Berdasarkan hasil evaluasi, perusahaan harus melakukan peningkatan terhadap sistem yang ada. Dunia bisnis terus berubah, sehingga aturan yang kita gunakan juga harus tetap relevan. Hal ini mencakup upaya adaptasi terhadap perubahan hukum atau pasar.

Tim juga perlu melakukan langkah proaktif untuk meningkatkan kompetensi staf agar sistem pengelolaan risiko menjadi lebih kuat dari waktu ke waktu.

Baca juga: 5 Dampak Belum Mengurus Sertifikat ISO, Begini Risikonya

Contoh Penerapan Kerangka Manajemen Risiko dalam Bisnis

Contoh nyata penerapan kerangka kerja manajemen risiko ISO 31000 di Indonesia pada tahun 2026 dapat dilihat pada sektor BUMN seperti PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk.

Kerangka Manajemen Risiko

Bagaimana jika semua langkah teknis di atas diterapkan pada skala perusahaan sebesar ini? Berikut kami coba simulasikan implementasi Klausul 5 pada operasional mereka:

  • Kepemimpinan (5.2): Direksi menetapkan kebijakan manajemen risiko yang terintegrasi dengan Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP) dan mengalokasikan anggaran khusus untuk teknologi pendeteksi risiko siber berbasis AI.
  • Integrasi (5.3): Manajemen risiko bukan lagi unit terpisah. Setiap manajer divisi diwajibkan menyusun profil risiko sebagai syarat pengajuan anggaran proyek infrastruktur digital baru.
  • Desain (5.4): Perusahaan menetapkan konteks eksternal (seperti regulasi UU PDP yang ketat) dan “Kriteria Risiko”. Misalnya, gangguan jaringan di atas 1 jam dikategorikan sebagai risiko “Sangat Tinggi”.
  • Implementasi (5.5): Memasang sistem pemantauan aset TI secara real-time untuk mendeteksi anomali keamanan data secara otomatis.
  • Evaluasi (5.6): Melakukan audit internal berkala untuk mengevaluasi apakah sistem mitigasi efektif mengurangi frekuensi downtime
  • Perbaikan (5.7): Jika ditemukan celah pada sistem keamanan, kerangka kerja diperbarui dengan memperketat protokol otentikasi pada seluruh lini bisnis.

Hasilnya, perusahaan memiliki ketahanan operasional yang lebih kuat dan mampu mengambil keputusan strategis berbasis data risiko yang akurat di tengah ketidakpastian pasar digital Indonesia.

Mengapa Perlu Memahami Kerangka Manajemen Risiko?

Memahami kerangka ini akan memberikan rasa aman bagi pemilik bisnis saat harus mengambil langkah berani. Risiko bukan untuk ditakuti, melainkan untuk dikelola agar tidak mengganggu operasional harian. Berikut adalah beberapa manfaat utama yang akan dirasakan:

  • Membantu perusahaan dalam mencapai target jangka panjang dengan lebih stabil.
  • Meningkatkan efisiensi dalam penggunaan sumber daya karena potensi kerugian sudah dipetakan.
  • Memberikan kepastian bagi para pemegang saham bahwa bisnis dikelola dengan cara yang bertanggung jawab.
  • Menciptakan budaya kerja yang lebih waspada terhadap perubahan lingkungan bisnis.

Semoga dengan memahami kerangka manajemen risiko, perusahaan Anda bisa menerapkan ISO 31000 dengan lebih baik lagi. Jika membutuhkan bantuan lebih lanjut seputar konsultasi maupun sertifikasi, jangan ragu untuk menghubungi kami di Jasaiso.id.

Kami siap mendampingi tim Anda untuk membangun sistem manajemen risiko yang tepat!