7 Prinsip HACCP untuk Industri Pangan, No.6 Sering Disepelekan!

Prinsip HACCP

Hazard Analysis and Critical Control Points bukan sekadar kumpulan dokumen keamanan pangan yang disiapkan menjelang audit. Ketujuh prinsip HACCP membentuk rangkaian yang saling bergantung, sehingga kelemahan pada satu bagian dapat memengaruhi bagian lainnya.

Sistem ini diakui dalam Codex Alimentarius dan menjadi salah satu komponen utama yang diintegrasikan ke dalam ISO 22000. Karena itu, penerapannya perlu dipahami sebagai satu sistem, bukan sekadar daftar persyaratan.

1. Analisis Bahaya (Hazard Analysis)

Tahap pertama dimulai dengan mengidentifikasi dan mengevaluasi bahaya yang mungkin muncul di setiap tahapan proses, mulai dari penerimaan bahan baku hingga produk dikonsumsi. Bahaya dapat berupa biologis, seperti bakteri dan virus, kimiawi, seperti residu bahan kimia, maupun fisik, seperti pecahan logam atau plastik.

Hasil analisis ini menjadi dasar untuk menentukan tahapan yang perlu dikendalikan sebagai Critical Control Point (CCP). Karena itu, analisis yang tidak lengkap dapat membuat penentuan CCP berikutnya tidak tepat. Kesalahan yang sering terjadi adalah penyusunan analisis hanya oleh tim dokumentasi tanpa melibatkan personel yang memahami kondisi proses secara langsung.

2. Penentuan Critical Control Point (CCP)

CCP merupakan tahapan tempat pengendalian dapat diterapkan untuk mencegah, menghilangkan, atau menurunkan bahaya hingga tingkat yang dapat diterima. Penentuannya dapat menggunakan alat bantu seperti decision tree sesuai pedoman Codex.

Hanya bahaya yang telah dianalisis pada prinsip HACCP pertama yang dapat dipertimbangkan dalam penentuan CCP. Karena itu, jumlah CCP yang terlalu banyak belum tentu menunjukkan sistem yang lebih aman. Penetapan setiap tahapan produksi sebagai CCP justru dapat membuat sistem sulit dipantau dan mengaburkan titik pengendalian yang benar-benar penting.

3. Penetapan Batas Kritis (Critical Limits)

Setiap CCP memerlukan batas kritis yang dapat membedakan kondisi terkendali dari kondisi yang tidak aman. Parameter tersebut dapat berupa suhu, waktu, pH, kadar air, atau ukuran lain yang memiliki dasar ilmiah dan relevan dengan bahaya yang dikendalikan.

Batas kritis inilah yang kemudian menjadi acuan monitoring pada prinsip HACCP keempat. Kesalahan yang sering muncul adalah memilih angka tanpa dasar ilmiah, hasil penelitian, regulasi, atau sumber teknis yang dapat dipertanggungjawabkan. Saat dasar tersebut tidak jelas, perusahaan akan kesulitan menjelaskan alasan pemilihan batas kritis ketika sistem diperiksa.

Baca juga: Perbedaan Penting HACCP, TACCP, dan VACCP Jangan Tertukar!

4. Penetapan Sistem Pemantauan (Monitoring)

Monitoring memastikan setiap CCP tetap berada dalam batas yang telah ditentukan. Sistemnya perlu menjelaskan apa yang dipantau, metode pengukuran, frekuensi pemeriksaan, serta siapa yang bertanggung jawab melaksanakannya.

Data monitoring menjadi sumber informasi untuk menentukan apakah tindakan korektif diperlukan ketika terjadi penyimpangan.

Frekuensi pemeriksaan juga perlu cukup untuk mendeteksi kehilangan kendali pada waktu yang memungkinkan tindakan dilakukan. Monitoring yang terlalu jarang dapat membuat penyimpangan baru diketahui setelah seluruh batch selesai diproduksi.

5. Tindakan Korektif (Corrective Actions)

Tindakan korektif perlu ditetapkan sebelumnya dalam rencana HACCP agar respons terhadap penyimpangan tidak bersifat ad hoc. Ketika batas kritis terlampaui, perusahaan perlu mengembalikan CCP ke kondisi terkendali sekaligus menentukan penanganan terhadap produk yang mungkin terdampak.

Langkah ini juga perlu diarahkan pada penyebab penyimpangan agar masalah tidak terus berulang. Kesalahan yang sering terjadi adalah perusahaan hanya memisahkan produk yang bermasalah tanpa mencari penyebab mengapa penyimpangan tersebut bisa terjadi.

6. Prosedur Verifikasi (Verification)

Verifikasi digunakan untuk memastikan keseluruhan sistem HACCP benar-benar bekerja efektif. Kegiatannya berbeda dari monitoring. Monitoring mengawasi CCP secara rutin, sedangkan verifikasi menilai apakah sistem pengendalian secara keseluruhan telah berjalan sesuai rancangan.

Kegiatan verifikasi dapat mencakup peninjauan rekaman, pemeriksaan alat ukur dan kalibrasi, evaluasi penyimpangan, pengujian tambahan, hingga audit internal. Hasilnya dapat memicu peninjauan kembali analisis bahaya, CCP, batas kritis, atau prosedur lainnya apabila ditemukan perubahan maupun kelemahan sistem.

Verifikasi yang hanya dilakukan menjelang audit eksternal membuat perusahaan kehilangan fungsi utamanya sebagai alat untuk memastikan efektivitas HACCP sepanjang waktu. Terutama jika Anda berencana membuka fasilitas produksi seperti SPPG, sangat dianjurkan untuk menyelesaikan proses sertifikasi HACCP MBG untuk mencegah risiko kontaminasi dalam produksi pangan.

7. Sistem Dokumentasi dan Rekaman (Record-Keeping)

Dokumentasi dan rekaman menjadi bukti bahwa enam prinsip sebelumnya benar-benar diterapkan. Catatan dapat mencakup hasil analisis bahaya, pemantauan CCP, penyimpangan, tindakan korektif, kegiatan verifikasi, hingga perubahan pada rencana HACCP.

Tanpa rekaman yang andal, perusahaan akan kesulitan membuktikan bahwa pengendalian berjalan konsisten kepada auditor, regulator, maupun pelanggan. Karena itu, pencatatan yang dibuat setelah kejadian atau direkayasa menjelang audit justru menghilangkan fungsi HACCP sebagai sistem pencegahan.

Prinsip HACCP

Ketujuh prinsip HACCP bekerja sebagai rangkaian yang saling terhubung, bukan tujuh dokumen terpisah. Prinsip HACCP juga menjadi salah satu komponen utama yang diintegrasikan dalam ISO 22000 untuk membangun Sistem Manajemen Keamanan Pangan yang lebih menyeluruh.

Jika perusahaan membutuhkan penerapan prinsip HACCP atau persiapan menuju ISO 22000, tim jasaiso.id dapat membantu menyesuaikan sistem dengan proses dan kebutuhan industri pangan.

FAQ Prinsip HACCP

Bagaimana hubungan ketujuh prinsip HACCP dalam satu sistem?

Ketujuh prinsip saling bergantung dan membentuk satu rangkaian. Hasil verifikasi juga dapat memicu peninjauan kembali prinsip sebelumnya ketika ditemukan perubahan atau kelemahan.

HACCP dan ISO 22000, apa yang membedakannya?

HACCP berfokus pada analisis bahaya dan pengendalian titik kritis, sedangkan ISO 22000 mengintegrasikan prinsip HACCP ke dalam Sistem Manajemen Keamanan Pangan yang lebih luas.

Kapan perusahaan perlu mempertimbangkan sertifikasi ISO 22000 setelah menerapkan HACCP?

Sertifikasi ISO 22000 dapat dipertimbangkan ketika perusahaan membutuhkan sistem keamanan pangan yang lebih menyeluruh sekaligus bukti penerapan yang dapat dinilai oleh badan sertifikasi independen.